Headline

Tujuhbelasan Ala Santri Cipulus Purwakarta

Tujuhbelasan Ala Santri Cipulus Purwakarta

Cidahu.com – Berbagai acara dilakukan rakyat untuk memperingati momen detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti halnya yang dilakukan ribuan santri di Pondok Pesantren Al Hikamussalafiyah, Cipulus, Desa Nagrog Kecamatan Wanayasa, Rabu (17/8/2016).

Mengenakan pakaian ala santri, seluruh santri menggelar upacara bendera di lingkungan pesantren tepatnya di lapangan yang berada di Lereng Gunung Burangrang.

Santri putra tampak menggunakan baju muslim dan sarung serta kopiah, demikian juga dengan santri putri yang mengenakan jilbab lengkap. Sebagian santri putri bahkan menggunakan pakaian yang bernuansa merah putih. Ribuan santri terlihat antusias dan telah bersiap sejak pagi.

Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah H. Hadi Musa Said yang merupakan Sekretaris Pondok Pesantren Alhikamussalafiyah mengaku, sebenarnya tiap tahun Pesantren Alhikamussalafiyah Cipulus Purwakarta selalu memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia. Tapi baru mulai tahun ini pihaknya sengaja menggelar prosesi upacara bendera yang melibatkan seluruh santri.

“71 tahun Indonesia merdeka adalah pengorbanan para Pejuang Kemerdekaan yang merelakan darah dan nyawanya demi Kemerdekaan Bangsa dan tanah Air tercinta. Rois Akbar NU Hadratusyehk KH. Hasyim As’Ari telah mengobarkan semangat perjuangan para Ulama dan Santri untuk bahu membahu berjuang dalam merebut Kemerdekaan yang terkenal dengan Resolusi Jihad, Hubul Wathon Minal Iman ‘Cinta Tanah Air sebagian dari Iman’ ini yang kita tanamkan

sejak dini pada seluruh santri,” kata dia.

Pesantren Al Hikamussalafiyah Cipulus Purwakarta yang berdiri sejak tahun 1840 lanjut dia tentunya telah ikut berperan dalam masa-masa Perjuangan sebelum kemerdekaan Indonesia, peran para Ulama, Kyai, Ajeungan, Ustadz, Guru Ngaji dan para Santri tidak dapat dipungkiri dan itu adalah bentuk nyata dari kecintaan kita pada Tanah Air.

“Kita lahir tumbuh dan besar di Negara Indonesia, kita makan dan minum dari tanah dan air Indonesia dan kita mati dan meninggal InsyaAllah dikmakamkan di Tanah Indonesia. Di atas ditanah ini kami bersujud, berdiri dan rebah. Sehingga kita wajib hukumnya menjaga keutuhan Tanah dan air Negara Kesatuan Rebubplik Indonesia NKRI. Siapapun yang tidak setuju dengan NKRI harus pergi dari Indonesia, bagi kaum pesantren NKRI adalah hasil final dan Marga mati,” tegas Ade.

Upacara bendera ala santri ini, menurut sambung Ade, akan menjadi tradisi yang terus dirawat untuk meneguhkan bakti santri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kaum santri mempunyai sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Jiwa dan semangat juang ini ingin kami teruskan kepada santri-santri masa kini. Santri itu kan kepanjanganya, Satukan Amanat Nusantara Terhadap Republik Indonesia, menjaga tradisi dengan mengaji, menjaga NKRI dengan mengabdi,” pungkasnya. (CN-01)

Comments
To Top