Purwakarta

Inilah Kehidupan Bebas Anak Punk

CIDAHU. COM – Dunia anak jalanan atau yang sering disebut anak punk memang tak pernah lepas dari hal-hal negatif. Hampir semua penilaian orang soal kelompok ini tetap yang jelek-jelek.

Mulai dari kekerasan, isap lem, tenggak miras, jarah badan dengan tato, hingga berhubungan intim dengan teman sendiri. Keberadaan anak-anak punk tak hanya berada di kota sebesar Jakarta atau Bandung.

Tetapi, keberadaan kelompok ini juga ada di Kabupaten Purwakarta. Biasanya, anak-anak punk di Purwakarta biasanya berkumpul di Sadang, belakang Pasar Juma’ah, sekitaran Stasiun Purwakarta, hingga Parapatan Comro jalan Basuki Rahmat. Tempat-tempat tersebut kerap dijadikan untuk bermalam. Bila siang hari, mereka menghabiskan waktu dengan mengisap lem. Ngefoks, begitu istilah anak muda ini.

Sementara di malam hari, mereka memadu kasih. Bahkan berbuat mesum, berhubungan intim layaknya suami istri di tempat yang gelap, seperti kuburan, hingga di gerbong kereta yang sudah tidak terpakai.

Pengakuan itu mereka lontarkan saat jabarnews.com berbincang dengan sekelompok anak punk yang diamankan Satpol PP Kabupaten Purwakarta, Kamis (5/6/2018) kemarin.

Beberapa di antaranya mengaku terjerumus dalam pergaulan bebas ini karena ajakan teman. Salah satu di antaranya menyebut dirinya dengan nama Si Omod Gionino.

Omod mengaku kerap melakukan aktivitas isap lem, minum tuak/ciu, hingga minum obat batuk kemasan dengan jumlah yang banyak kemudian dicampur obat nyamuk bersama teman-teman seusianya

“Iya kang saya dan teman-teman suka ngefoks dan minum (minum miras.red). Hasil ngamen kita buat beli makan dan jika ada sisanya kita beli lem buat diisap, atau obat batuk yang dicampur obat nyamuk buat kita minum, yang penting ngefly aja kang,” ujar Omod.

Jika uang sisa sedikit, terang Omod, untuk ngefly dirinya dan teman-teman suka memeberi softener (pelembut pakaian, Red.) buat diminum bersama.

“Ya kang, softener itu kita minum bersama biar agak ngefly gitu kang. Enak sih rasanya, sedikit pusing, yang penting ngefly aja sih, namun ketika ngomong mulut wangi,” terang Omod sambil tersenyum.

Lebih mirisnya lagi, ada di antara kelompok tersebut yang disebut si Bandel. Bandel sudah memiliki seorang istri dan seorang anak yang merupakan buah dari pergaulan punknya.

“Istriku anak punk juga. Dulu saya kenal istriku dari kumpulan punk juga. Gara-gara dikasih kenal sama teman, akhirnya pacaran, hamil dan saya dipaksa nikahi dia,” terang Bandel polos sambil tunjuk perempuan yang ada di kelompok itu.

Berstatus memiliki istri dan anak yang dibawa istrinya. Bandel saat ini usianya 20 tahun dan istrinya berusia 17. Si Bandel masih juga melakukan aktivitas punknya.

“Saya sudah punya anak yang dibawa istriku, ternyata sebelum saya nikahi, istriku seorang janda anak satu, buah pernikahan sebelumnya dengan anak punk juga. Dan sekarang istriku sedang hamil 3 bulan,” ujar Bandel.

Saat ditanya pekerjaan sehari-harinya untuk menafkahi anak dan istrinya, ia menjawab masih mencari pekerjaan.

“Mau kerja apa? Mau jadi tukang batu, atau tukang bangunan, gak ada yang percaya dengan penampilan begini. Biasanya saya jadi tukang parkir atau mengamen. Yang penting tidak mencuri. Kalau dapat Rp 10 ribu, saya kasih istriku. Istriku juga masih sering kumpul-kumpul di sini sama-sama. Rumahku dekat dari sini. Kita di sini kumpul-kumpul aja, sedangkan anak dibawa ibu istriku di Bandung,” ujarnya.

Pengakuan senada terlontar dari, Wanita janda usia 20 tahun ini, yang sering dipanggil Sri oleh teman-temannya. Dia mengaku ikut kumpul-kumpul gara-gara merasa tidak belah di rumah karena orang tuanya sering ribut.

“Saya menikah pada usia 14 tahun. Tapi pisahkan sama suamiku yang anak punk juga. Saat itu umurku 20 tahun dan anakku berusia 4 tahun. Di sini semua teman temanku. Saya suka pusing kalau di rumah, nah untuk hilangkan pusing itu saya suka ngefoks atau mabok sama teman-teman di sini,” ujar Sri sambil tersenyum.

Lanjut dia, saat berkumpul dengan teman-temanya sesama anak punk, ia mengaku lupa dengan kepusingan di rumah dan seperti bebas tanpa beban hidup.

“Biasanya kalau mau mabok atau ngefly kita suka petepete (iuran, Red.). Itu pun kalau ada uang. Tapi kalau tidak ada uang, sama teman-teman pergi parkir atau mengamen,” jelasnya.

Menurutnya, ketika isap lem yang membuatnya banyak mengkhayal dan jika minum miras memberikan sensasi yang tidak bisa digantikan yang lain.

“Kalau habis isap lem itu, semua yang kita mau bisa didapat, tapi lewat dari menghayal. Imajinasi kita dapat semua, beban hidup pun lupa. Selain ngelem saya juga suka mabok miras. Bahkan kalau tak ada uang ya minum apa aja yang bikin mabok,seperti ngomik, obat nyamuk Autan, softener hingga rebusan daun kecubung sampai rebusan bekas pembalut yang saat ini sedang tren,” tutur Sri sambil tersenyum.

Diketahui anak-anak punk tersebut dibawa ke Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta untuk diberikan pembinaan. (Gin)

Most Popular

To Top