Purwakarta

Akhmad Sudarna, Sulap Sampah Plastik jadi Bahan Bakar Minyak

Cidahu.com – Masalah sampah masih selalu menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama, tanpa kecuali di Purwakarta. Bisa dilihat sendiri sampah di sekitar kita. Sampah setiap hari selalu ada, seakan tak pernah habis, bahkan semakin menumpuk.

Apalagi sampah plastik. Sampah jenis ini salah satu yang paling berbahaya bagi lingkungan. Pasalnya, dari hasil menelitian sampah plastik tidak mudah terdegradasi. Sampah plastik butuh waktu hingga 150 tahun untuk hancur dimakan bakteri dan menyatu dengan tanah.

Di Desa Karoya Kecamatan Tegalwaru, ada seorang pria yang tindak-tanduknya terhadap kepedulian lingkungan dan alam patut diapresiasi. Dia adalah Akhmad Sudarna warga Kampung Cisalak, RT05 RW03. Lelaki kelahiran Purwkarta, 25 Maret 1977 yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar (SD) ini berhasil membuat alat untuk menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Dari keterangan yang digali dari Kang Akhmad, begitu dia biasa disapa, alat untuk menyulap sampah plastik jadi BBM ini dibuat dari bahan-bahan sederhana, yakni kaleng dan pipa besi, kemudian bahan pendukung lain seperti kayu bakar dan tungku. Melalui alat tersebut, proses pengelolaan sampah plastik menjadi BBM ini disebut Pyrolysis.

Pyrolysis adalah proses penguraian thermokimia pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen. Dengan menggunakan konsep ini, sampah plastik dipanaskan pada suhu sekitar 300-400 derajat Celcius sehingga berubah fase menjadi gas, kemudian akan terjadi proses perengkahan (cracking).

Selanjutnya gas tersebut dikondensasikan sehingga menjadi fase cair. Hasil kondensasi inilah yang bisa digunakan sebagai BBM yang setara dengan bensin dan solar. BBM dari pemakaian sampah ini keluar dari pipa yang sudah tersambung dengan kaleng yang dipanaskan.

“Ya, caranya cukup sederhana. Kita daur ulang sampah plastik dengan alat pembakar itu. Sampah plastik tersebut dimasukan kedalam kaleng dan dipanaskan. Prosesnya mirip penyulingan memang,” kata Sudarna saat ditemui Wartawan, di SDN 1 Karoya, sekolah tempat dirinya mengajar, belum lama ini.

Sudarna mengaku menciptakan alat itu berawal dari kegelisahannya melihat berceceran sampah plastik di sawah, kebun dan sungai. Keberadaan sampah plastik yang dibuang sembarangan itu sangat menggu, selain membuat likungan kotor juga menyumbat beberapa aliran sungai. Bahkan terbawa arus air ke sawah-sawah, akibatnya sawah jadi kotor.

Berangkat dari alasan itu, ayah dua anak ini membuat terobosan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Terutama membuang sampah plastik. Apalagi dia melihat jumlah sampah plastik semakin meningkat seiring dengan kenaikan angka konsumtivitasnya. Untuk menyadarkan akan pemamfaatatan sampah plastik yang dapat disulap menjadi BBM ini, Sudarna menggabungkan dengan keberadaan pengusaha ternak ayam dan bebek.

Terobosan itu dia awali dua tahun lalu. Tepatnya awal 2014 dirinya mensosialisasikan alat buatannya tersebut kepada para peternak ayam dan bebek yang ada di desanya. Ini menyusul kebutuhan alat penghangat yang biasanya memamfaatkan bahan bakar gas elpiji cukup besar. Peternak mensiasatinya dengan api yang harus terus menyala di dalam kadang setiap hari. Dengan BBM yang terbuat dari daur ulang sampah plastik ini ternaya mampu menghemat biaya hampir 70 persen kebutuhan bahan bakar dari gas elpiji.

“Hingga sekarang Alhamdulillah, dari 18 peternak ayam 8 diataranya sudah mengunakan BBM aternatif yang terbuat dari daur ulang sampah plastik ini. Sisanya masih mengunakan gas elpiji untuk bahan bakar penghangat di masing-masing kadang ayam mereka,” ujar sudarna yang juga Ketua Paguyuban Peternak Ayam Boiler Desa Karoya, ini.

Menurutnya ada beberapa alasan kenapa para peternak ayam tidak mau mengunakan BBM aternatif yang terbuat dari daur ulang sampah plastik meskipun bisa menghemat biaya. “Kendalanya yakni mereka tidak ingin ribet harus melakukan proses daur ulang sampah plastik-nya itu. Jika seluruh pengusaha ayam di Purwakarta mamfaatkan BBM daurulang ini, maka bisa terhitung berapa volume sampah plastik yang termamfaatkan,” tambah dia.

Alat untuk membuat daur ulang sampah plastik menjadi BBM ini rata-rata dibuat dengan daya tampung 5 kilogram sampah plastik. Untuk 1 kologram sampah bisa menghasilkan tidak kurang dari satu liter BBM aternatif. Itu untuk jenis sampah plastik padat atau kemasan. Beda dengan sampah kantong plastik, sampah plastik jenis tersebut hanya menghasilkan BBM arternatif sedikit untuk ukuran yang sama. Selain menghasilkan BBM, sampah plastik dari hasil pembakaran juga hampasnya bisa dimanfaatkan, yakni dibuat briket. Briket ini bisa menjadi bahan bakar menyrupai lilin. Satu briket ukuran 7 sentimeter bisa bertahan dibakar hingga 8 jam. Bahkan bisa dijadikan bahan bakar memasak pengganti kayu bakar.

“Karena banyak yang tidak mau melakukan proses pengelolaan sendiri saya kemudian memberikan solusi dengam menjual BBM arternatif itu dengan harga Rp2000 perliter. Memang terlalu murah, tapi buat saya yang terpenting sampah plastik termamfaatkan, yang kemudian kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan tersosialisasi. Teknisnya yaitu dengan pemanfaatan sampah plastik yang bisa didaurualng jadi BBM ini,” bebernya.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat melalui terobosan daurulang sampah ini, Sudarna berharap dimasa depan tidak ada lagi sampah plastik yang dibuang ke sungai, sawah maupun kebun. Apalagi masyarakat di pedesaan. “Di pedesaan mungkin berbeda dengan di kota. Kalau di kota ada petugas khusus yang mengkut sampah, sementara di pedesaan kebanyakan gak ada,” tutur dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Ruslan Subanda mengaku baru mengetahui ada guru PNS di Purwakarta yang cukup kreatif dan menjadi aktifis lingkungan. Apalagi mampu menciptakan alat yang bisa mendaurulang sampah plastik menjadi BBM.Jika terobosan tersebut dikembangkan maka akan mengurangi jumlah sampah plastik, paling tidak sampah yang ada di Purwakarta.

“Sebab, dari volume sampah 150 ton perhari 40 persen diantaranya merupakan sampah plastik. Apalagi sampah plastik merupakan sampah yang paling dianggap merusak lingkungan. Kita akan coba lihat kesana,” ujarnya. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top