Purwakarta

Pelajar Purwakarta Dialog dengan Ustad dari Amerika

Dedi Mulyadi dan Imam Mohamad Basar Arafat

Cidahu.com – Ratuan pelajar, mahasiswa, santri dan masyarakat umum berdialog dengan President Civilization Exchange and Cooperation Foundation Washington DC Imam Mohamad Bashar Arafat, berkenaan dengan Islam di Amerika Serikat. Selain berbicara Islam di Amerika, dialog cukup menarik dengan pemaparan Islam Nusantara buah pemikiran Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Dialog International Islamic Conference (IIC) 2015 yang digelar oleh The Institute of Democracy and Education (IDE) dipimpin oleh Gugun Gumelar selaku Executive Director IDE. Gugun turut memberikan bahan materi bagi kedua pembicara Imam Mohamad Basar Arafat dan Dedi Mulyadi mengenai Islamophobia di Amerika Serikat.

Dalam dialog, Imam Mohamad Basar Arafat menuturkan, beberapa warga Amerika yang masuk Islam, mereka takut harus berperilaku semisal orang Arab. Menurutnya orang Amerika, tidak kompeteble jika budayanya harus sama dengan Amerika. Masyarakat Amerika lebih cenderung suka, ketika masuk Islam kultur Amerika tidak dilepaskan sesuai budaya masing-masing.

“Saya ingin menjelaskan pada orang Amerika termasuk orang Purwakarta untuk menghormati kultur. Perbedaan suku bangsa bahasa ras bukan bahan perpecahan melainkan untuk saling mengerti perbedaan dan saling harmonis,” jelas Imam Mohamad Basar Arafat dalam dialog di Pendopo Pemkab Purwakarta, Selasa (1/12/2015).

Berbicara leadership keislaman di Amerika, Imam Mohamad menilai, ada dua imam, pertama imam salat dan imam golongan. Termasuk menurutnya, perkembangan Islam di Amerika saat ini cukup pesat, karena gaya kepemimpinan imam di setiap golongan muslim yang memiliki sikap bijak.

“Yang paling mulia di hadapan Allah SWT dia yang paling takwa. Dalam Alquran, laki-laki adalah sebagai seorang yang lembut. Dan dalam Alquran, perempuan begitu dimuliakan. Ini yang membuat masyarakat Amerika begitu tertarik jadi mualaf,” paparnya.

Sebagai Imam Islam di Amerika, Imam Mohamad Basar Arafat sering berkampanye mengenai antara laki-laki dan perempuan sama derajatnya. Dulu kala, istrinya adalah kristen dan masuk Islam. Perempuan dalam Alquran sangat diistimewakan.

“Dan istri saya sekarang memakai hijab. Anak-anak saya juga sama. Dia bangga sebagai seorang American Islam. Saya bersama keluarga sempat membuat film religi mengenai Islam, dan filmnya mendapat rating tertinggi ditonton oleh publik Amerika. Film ini berjudul The Colors of Veil. Islam di Amerika tumbuh karena kepemimpinan,” ucapnya.

Imam bertanya, mengapa Amerika maju, karena faktor leadership. Imamnya punya faktor leadership yang tinggi. Salah satunya adalah, kenapa Indonesia mesti belajar pada Amerika karena faktor imam memiliki leadership yang baik.

“Ini kritik buat kita, setiap kunjungan ke masjid di Indonesia. Banyak produk Amerika yang terpampang di pinggiran masjid di Indonesia. Seharusnya, muslim Indonesia juga bisa bersaing di wilayah perekonomian dan bisa membuktikan muslim hebat,” ungkap dia.

Sementara, Dedi Mulyadi dalam paparan materinya menjelaskan, Indonesia memandang Amerika hanya sebatas di televisi. Tidak melihat jika Amerika memiliki budaya dan toleransi yang tinggi. Hal ini dibuktikan saat Dedi berkunjung ke Amerika. Dedi cukup terpesona dengan suasana lingkungan dan keharmonisan masyarakat Amerika.

“Bisa jadi kita warga Indonesia sebagai korban film. Yang tidak bisa hidup dalam perbedaan dan tidak bisa hidup untuk melindungi lingkungannya. Berbicara tentang keyakinan, Amerika sudah cukup berkeyakinan. Karena lingkungannya tertata dengan rapi,” tandasnya. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top