Purwakarta

Pengrajin Samak Pandan Darangdan Terancam Punah

Pengrajin Samak Pandan Darangdan Terancam Punah

Cidahu.com – Sulitnya mendapat bahan baku (daun pandan), minimnya pendapatan dan kurangnya minat generasi penerus mengancam keberadaan Pengrajin Tikar (Samak) Pandan di Desa Nagrak Kecamatan Darangdan yang nyaris punah.

Salah satu pengrajin Samak Pandan di Kampung Cicariu Desa Nagrak yang masih bertahan, Mak Lasmi (60) mengungkapkan, karena makin sulitnya memperoleh daun dan minimnya penghasilan dari menjual samak, kini banyak pengrajin yang beralih profesi.

Untuk melesatarikan keberadaan pengrajin, Mak Lasmi tetap bertahan, selain itu, dia mengungkapkan, daun pandan kering juga bisa dianyam untuk membuat topi.

“Untuk harga tikar berukuran 1,8 meter harganya Rp60 ribu, membutuhkan waktu dua hari dua malam membuatnya, topi dan tas harganya antara Rp15 ribu hingga 45 ribu,” ungkap Mak Lasmi kepada Cidahu News, Rabu (10/2/2016).

Suami Mak Lasmi, Aki Riwatma (65) menambahkan, agar pohon pandan tidak punah, dia harus menanamnya sendiri untuk dipanen beberapa bulan kedepan. “Di RT04 RW08 pengrajin hanya saya dengan istri saja yang tetap bertahan menggeluti anyaman ini,” tuturnya.

Dihubungi terpisah, Sekdes Nagrak, Dede Yulianto menerangkan, pengrajin anyaman yang terbuat dari daun pandan di Desa Nagrak terdapat di RW 04 yaitu di RT21, 07 dan 08.

Menurutnya, untuk tetap mempertahankan keberadaan pengrajin tersebut memang pernah terselip di rencana namun desa.

“Tapi dengan kendala sulitnya memperoleh bahan baku dan warga kebanyakan lebih condong kerja di perusahaan, aparatur desa agak kesulitan mengatasinya,” jelas Dede.

Dia berharap pemerintah daerah melalui intansi terkait dapat membantu mempertahankan keberadaan para pengrajin tikar tersebut. “Kita berharap pemerintah bisa memberikan solusi, agar pengrajin samak pandan di Desa Nagrak tetap bertahan,” pungkasnya. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top