Kampus

KPM STAI Muttaqien Bangkitkan Madrasah Mati Suri

Peserta KPM STAI Muttaqien Purwakarta di Kiarapedes

Cidahu.com – Riuh suara bocah terdengar nyaring sekali dari dalam bangunan tua itu. Kali ini sepertinya mereka bukan sedang bermain. Karena diantara keriuhan itu sekali terdengar suara teguran orang dewasa.”Hei dengarkan, perhatikan…!! Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar” katanya seraya meminta anak anak itu mengulang bacaan doa sebelum makan tersebut bersama-sama.

Ya, begitu lah kehangatan yang terasa di gedung sekolah tua Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Tarbiyatul Islamiya di Kampung Babakan Kiara RT11 RW04 Desa Kiarapedes Kecamatan Kiarapedes. Lembaga pendidikan Nonformal yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu agama islam ini kembali bangkit, setelah 12 tahun mati suri.

Kerinduan warga setempat akan adanya lembaga pendidikan yang mengajarkan keagamaan bagi keturunan mereka sudah lama dimimpikan. Namun baru kali ini mimpinya terujud. Sebelumnya sejak 2003 lalu bangunan sekolah tersebut hanya menjadi bangunan tua usang yang kosong, bahkan terkadang disukan dengan cerita seram untuk menakuti anak-anak mereka yang menangis.

Belakangan diketahui kebangkitan MDTA ini tidak lepas dari peran kelompok mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta yang sedang menggelar Kuliah Pengabdian Pasyarakat (KPM) di desa terpencil yang ada di bagian selatan Kabupaten Purwakarta tersebut.

Iwan Jamaludin salah seorang tokoh masyarakat Desa Kiarapedes, membenarkan hal itu. Menurutnya, kelompok mahasiswa ini merasa prihatin atas persoalan yang ada di desanya terkait keberadaan lembaga pendidikan nonformal yang mengajarkan tentang agama islam tersebut. Kemudian mereka membuat gagasan untuk membangkitkan MDTA yang sudah 12 tahun lamanya pakum ini.

“Namun tentunya mebangkitkan sebuah lembaga pendidikan yang sudah tidak ada muridnya selama 12 tahun ini bukan hal mudah. Masyarakatpun harus terut berperan di dalammlnya. Hingga akhirnya kami dari masyarakat dan kelompok mahasiswa itu berkerjasama hingga akhirnya berhasil menjadikan MDTA yang pernah berjaya tahun 70-an ini bangkit kembali,” katanya kepada Cidahu News, Senin (22/2/2016).

Uniknya usaha membangkitkan MDTA ini hanya butuh waktu cukup singkat sekali. Tidak kurang dari dua minggu terakhir sejak awal Februari hinga tepatnya 16 Februari MDTA kembali memiliki murid. Bahkan sudah ada guru yang secara suka rela mendedikasikan waktunya untuk mengajar pendidikan agama islam di sekolah ini.

“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar soal kenapa selolah ini pakum. Yang jelas dulu karena tenaga pendidik yang ada, mereka pindah tugas. Semenrara di sini terjadi kekosongan guru. Hingga akhirnya ditinggalkan murid-muridnya, karena gurunya gak ada,” tuturnya.

Menurutnya, keberadaan lembaga pendidikan yang khusus mengajarkan agama islam sudah menjadi mimpi bagi warga desanya. Untuk itu dirinya sangat berterimakasi kepada para mahasiswa yang secara tidak langsung sangat berjasa mewujudkan mimpi masyarakat Desa Kiarapedes.

Antusiasme masyarakat atas terujudnya kembali MDTA Tarbiyatul Islamiya ditujukan dengan gotong royong mereka mengumpulkan dana secara swadaya untuk memperbaiki beberapa komponen sekolah yang sudah rusak. Termasuk melakukan pengecetan ulang menghias agar sekolah kembali terlihat hidup.Bahkan membeli sejumlah buku pelajaran. “Saat ini muridnya baru sekitar 50 orang, sementara jumlah gurunya baru lima orang termasuk kepala sekolah,” katanya.

Sementara itu, koordinator kelompok mahasiswa KPM STAI DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta, Eka Darokatunnaza mengaku cukup berbangga hati karena dengan keberhasilan membankitkan MDTA yang sudah 12 tahun mati suri ini mengisyaratkan akan keberhasilan akan program KPM yang ditugaskan dari kampusnya saja, namun keberhasilan bagi masyarakat Desa Kiarapedes. “Karena dengan tekad dan keinginan yang kuat akhirnya mimpi mereka yang ingin memiliki lembaga pendidikan nonformal yang khusus mengajarkan pelajaran agama terujud,” kata Eka.

Sebab, menurut Eka, tanpa peran masyakat tidak mungkin MDTA yang sudah pakum 12 tahun ini bisa bangkit kembali. “Kami disini hanya berperan sebagai fasilitator saja, yang ikut prihatin dan akhirnya membatu mewujudkan mimpi mereka,” tambah dia.

Eka berharap Kementrian Agama (Kemenag) Purwakarta turut membantu untuk proses selanjutnya agar keberadaan MDTA Tarbiyatul Islamiya memiliki fasiliras yang memadai, trutama untuk biaya oprasional agar sekolah dibawah binaan Kemenag ini berjalan dan tidak kembali pakum. Apalgi sekolah ini kekurangan bangku untuk fasilitas para siswa mengikuti proses pelajaran.

“Sekarang proses untuk melengkapi beberapa kekurangan itu sedang ditempuh. Kami harap diralisasikan dengan cepat. MDTA memang penting karena di sekolah formal pendidikan agama tidak terlalu didalami,” harap dia. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top