Purwakarta

Cerita Pasangan “Penderita Gangguan Jiwa” Besarkan Dua Anak

Penderita Gangguan Jiwa

Cidahu.com – Salut, kewajiban Agus dan Irma untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Tidak terhalang oleh kondisi kejiwaan pasangan suami istri itu yang diduga mengalami gangguan.

Agus Herman (40) dan Irma Marlina (39) Pasangan suami istri warga kampung Jatijajar RT09 RW03 Desa Sukatani Kecamatan Sukatani ini, tinggal di gubuk berukuran 3X4 meter. Dalam kondisi memprihatinkan, tidak layak huni, berserakan sampah dan jauh dari pemukiman.

“Saya ingin ke Mentawai lagi pokoknya saya ingin kesana ingin naik gunung lagi,” begitulah gerutuan Irma, sambil melemparkan ember, saat Cidahu News berkunjung, Selasa (1/3/2016).

Nilam Repita Bilqis (5) dan Amara Putri Anjani (3), begitulah pasangan itu memberikan nama kepada kedua putrinya. Sayangnya, diusia yang seharusnya membutuhkan konsumsi gizi yang layak, pada kenyataannya mereka berdua harus mengkonsumsi makanan tidak layak konsumsi. Bahkan, diketahui, Raji Zuljalil (1) putri bungsu mereka meninggal dua hari lalu akibat gizi buruk.

Menurut keterangan warga sekitar Ujang (37) pasangan suami istri tersebut mengalami gangguan jiwa sepulang dari perantauan di Sumatera Barat. Mereka berdua mengurus anak-anaknya dari hasil memulung sampah.

Tidak sedikit masyarakat yang simpati dengan kondisi Agus dan keluarganya. Namun, warga sekitar tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya, Agus dan Irma terkadang suka marah jika ada warga yang datang mengunjungi keduanya.

“Mereka berdua diduga stres sepulang dari Mentawai tahun 2013 lalu akibat usahanya bangkrut disana. Yang bungsu Raji Zuljalil meninggal akibat tidak diurus jadi sekarang tinggal 2 anaknya umur 5 tahun dan 3 tahun,” terang Ujang.

Meski begitu, tambah Ujang, baik warga maupun aparatur pemerintahan sudah berupaya melakukan penanganan. Namun, keduanya enggan mendapatkan bantuan. “Kalau ada yang ngasih apapun pasti dibuang dikasih beras dibuang, suka marah kalau ada warga atau RT yang datang memberikan bantuan,” bebernya.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Sukatani, Asep Sumpena mengatakan, gangguan jiwa yang dialami Agus dan Irma sudah hampir 3 tahun. Tidak adanya identitas kependudukan menyulitkan pihak desa untuk mengobati keduanya.

“Kita susah menangani mereka berdua, jika kami datang mereka marah, kita kasih obat-obatan selalu dibuang. Makanya kita secepatnya urusi pembuatan KTP dan KK mereka agar secepatnya diobati,” kata Asep.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan membawa keduanya ke RSUD Purwakarta guna mendapatkan penanganan.
“Belum lama ini, KK serta KTP mereka sudah jadi. Rencananya besok kita akan bawa keduanya ke rumah sakit khusus kejiwaan,” ujar Kades. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top