Purwakarta

Hadirkan Kiai Ganjur, ISNU Purwakarta Gelar Ngaji Islam Nusantara

Hadirkan Kiai Ganjur, ISNU Purwakarta Gelar Ngaji Islam Nusantara

Cidahu.com – Dengan menghadirkan Dosen Pasca Sarjana STAI NU Jakarta, DR Ngatawi Al-Zastrow, MA (Kiai Ganjur) dan Bupati Purwakarta H. Dedi Mulyadi, SH. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Purwakarta kembali gelar Ngaji Islam Nusantara.

Ngaos Islam Nusantara yang digelar di Bale Janaka, Pemkab Purwakarta, Minggu (27/3/2016) itu mengambil tema “Islam Nusantara Perspektif Seni Budaya”.

Dalam paparannya, Kiai Ganjur menyebut Islam nusantara lebih bijak dan bertradisi. Dia juga menyampaikan banyak hal kesamaan Islam Nusantara dengan nilai-nilai luhur Pancasila serta menegaskan Islam Nusantara yang hari ini diusung PBNU bukanlah akidah baru, bukan pula sekte melainkan metodologi menjalankan syariat agama.

“Islam Nusantara bukan akidah, bukan sekte, tapi manhaj, metodologi mengamalkan ajaran Islam Bitoriqatis Saqafiyah (budaya),” jelasnya dihadapan ratusan peserta yang hadir.

Menurutnya, prinsip Islam Nusantara yang sudah dibangun sejak jaman Wali Songo kemudian dibangun menjadi gerakan Islam Nusantara. Beberapa prinsip Islam Nusantara diantaranya Tawassut (berada di tengah), Tasammuh (toleran) serta Tawazun (seimbang).

“Islam Nusantara sudah dibangun sejak jaman wali songo. Tawasut (ditengah-tengah), Tasammuh (Toleran) bukan tanpa prinsip,” paparnya.

Dia juga menyinggung soal tudingan sekelompok orang yang memusyrikan orang lain karena alasan membuat patung, padahal menurutnya kemusyrikan itu bukan perbuatan membuat patungnya tapi jabatanlah yang membuat orang syirik.

“Mestinya yang diobrak abrik itu bukan patung, tapi jabatan, karena jabatan yang menimbulkan syirik. Yang dihancurkan itu yang dibuat musrik,” timpalnya.

Lebih spesifik Islam Nusantara mengedepankan wisdom atau kebijaksanaan ketimbang urusan formilnya. Islam yang bijak menjadikan Islam yang lebih santun tanpa menimbulkan cap negatif kepadanya. Sehingga cermin Islam sesungguhnya akan muncul, yaitu Islam yang damai dan toleran terhadap orang lain.

“Keseluruhan Islam nusantara mengedepankan wisdom, daripada tuntutan formal syariat, sesuai maqasidusyari nya acuannya al usulul homsah. Semuanya mengedepankan wisdom,” tuturnya.

Dia contohkan cara berdakwah Sunan Kudus yang kala itu melarang pengikutnya menyembelih sapi. Alasannya khawatir melukai perasaan orang Hindu. Karenanya dia hanya membolehkan umat Islam hanya menyembelih kerbau dan kambing. “Bahkan Sunan Kudus, meminta semua umat Islam di Kudus jangan potong sapi,” jelasnya.

Sementara itu Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menyampaikan peran penting seni dan budaya untuk menggerakan perubahan di masyarakat. Caranya melalui pendekatan tradisi yang menjadi modal perubahan. “Seni dan kebudayaan untuk menggerakan perubahan masyarakat dengan pendekatan tradisi,” tuturnya.

Selain menggerakan masyarakat, seni dan budaya yang selama ini terus disemarakan Pemkab Purwakarta tidak miskin akan pemaknaan nilai religiusitas. Sehingga seni dan budaya tidak kering akan nilai-nilai syariat Islam yang sejatinya.

“Kesenian yang hilang religiusitasnya akan menambah kekeringan. Padahal kesenian dan kebudayaan memiliki nilai religiustas,” kata Kang Dedi. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top