Opini

HMI/KAHMI Konservatif Dilibas Kemoderatan Kaum Nahdiyin

Dadan K. Ramdan

Oleh: Dadan K. Ramdan

OPINI, Cidahu.com – Diakui atau tidak perkaderan HMI di era 80 dan 90 an banyak dipengaruhi oleh cara berfikir Cak Nur yang di kenal sebagai Re-inkarnasi Natsir di masa Masyumi. Kemampuan nalar Cak Nur dalam merefleksikan tauhidulillah ke dalam nilai-nilai kemanusian dan alam semesta telah melahirkan slogan-slogan kontraversi dijamannya, diantaranya adalah nilai-nilai Islam dalam KeIndonesiaan melalui istilah “Islam Yes Partai Islam No”, “sekulerisasi”, dan bahkan dalam bukunya yang berjudul Islam, Kemoderenan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1987, 1988) , Nurkholis mengajak para pembacanya untuk kembali mempertegas pemahaman kebertuhanan kita melalui syahadat dengan memaknai Tiada tuhan selain Tuhan.

Kontraversi ini kemudian mengundang perdebatan yang tiada henti, hingga mengundang sosok mantan menteri Agama RI yaitu Prof. Dr. H. M. Rasjidi menyampaikan tantangan kepada Cak Nur untuk berdebat dalam satu forum.

Kuatnya daya nalar Cak Nur ini konon telah menginspirasi rumusan kekaderan HMI dalam Nilai-nilai Identitas Kader yang kini berubah menjadi Nilai-nilai Dasar Perjuangan, rumusan ketauhidan ini memberikan pengaruh pada cara pandang setiap kader HMI dan para alumni HMI yang moderat dan bahkan mengarah ke cara berfikir liberal.

Keluasan benak kader ini tidak membatasi materi kajian di internal organisasi, mulai dari kajian tauhid antar madzhab diawali dari kaum jabariyah, maturudiah, asy’ariah, qodariah sampai dengan mu’tajilah, menjadi santapan dan menu utama di forum diskusi follow up para kader di Komisariat dan Cabang, lantas kajian ideologi negara dari konsep negara liberal sampai bentuk negara komunis atheis pun tidak pernah berhenti untuk menjawab setiap kegalauan ruang berfikir anak-anak HMI di setiap kampus, hal ini menjadi modal utama para kader HMI untuk melihat persoalan secara lebih dewasa dalam kemoderatan dan kemodernan.

Tapi kini 18 tahun pasca era reformasi kaidah kemoderatan berfikir HMI dan Alumni nya banyak mengalami diaspora bahkan seakan mengarah pada cara berfikir konservatif untuk memandang tema-tema kemanusiaan seperti kepemimpinan, keIslaman dan KeIndonesiaan, bahkan anehnya adalah Keislaman, KeIndonesiaan dan Komodernan berfikir, kini HMI terkikis oleh kemunculan Istilah Islam Nusantara yang justru datang dari Kelompok Islam Tradisional melalui Kaum Nahdiyin, kekuatan Independensi HMI sebagai modal yang kuat dalam berfikir dan beraktifitas, kini terlibas oleh kepentingan, sedangkan Kaum Nahdiyin yang di kenal sebagai kaum tradisional mulai merefleksikan kefahamannya dari kitab-kitab kuning ke dalam buah berfikir moderat dan modern.

Said Agil Misalnya, yang kini terus menerus giat menyampaikan gagasan Islam Nusantara, lantas diteruskan melalui Ngatawi Al-Zastrow secara serentak tanpa melalui penjelasan dan pemaknaan dalam satu kaderisasi terkait Islam Nusantara, mereka terus giat menyampaikan gagasan ini sebagai tema sentral yang ditujukan kepada seluruh kalangan dengan keragaman kapasitas keilmuan dan stratifikasi pendidikan di setiap diskusi baik di internal NU maupun di luar NU, meskipun kemudian perguliran tema ini menjadi sebaran apologis dikalangan Nahdiyin tingkat akar rumput.

Dari catatan di atas terkait gagasan Nurkholis Madjid dan realitas perkaderan dalam tubuh HMI, dapat di lihat bahwa tema Islam Nusantara bukanlah merupakan barang baru yang perlu di besar-besarkan dikalangan HMI/KAHMI, tapi paling tidak kita harus memberikan apresiasi yang positif kepada kaum Nahdiyin yang bersedia mengawal inti gagasan tersebut melalui warna Islam Nusantara, dan perlu diakui atau tidak, keterjebakan HMI/KAHMI ke dalam arena kepentingan telah membawa penciutan peran nya untuk mengejawantahkan keragaman berbangsa melalui originalitas gagasan pembangunan manusia Indonesia yang berkelanjutan.

Pengawalan kaum nahdiyin hampir sama dengan yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi, dia pernah menceritakan turunan ide Cak Nur ini dalam prespektif lain, sebagai inisiasi dari Islam, Kemodernan dan KeIndonesiaan,yang oleh nya diturunkan melalui Kesundaan.

Refleksi Dedi Mulyadi dalam turunan kesundaan ini di mulai sejak menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta sampai dia menjabat sebagai bupati di periode kedua.

Pertentangan terhadap turunan inisiasi Cak Nur oleh Dedi Mulyadi lebih besar lagi dibandingkan dengan turunan dalam warna Islam Nusantara, karena kekontraan yang datang terhadap Dedi Mulyadi tidak hanya hadir dari kalangan Ustadz atau Ulama tapi juga dari kalangan seniman dan budayawan sunda yang mempertanyakan substansi kesundaan yang dikampanyekan dan diimplementasikan oleh Dedi Mulyadi di Purwakarta.

Hal ini saya melihat strategi kolaborasi kebudayaan lokal (sunda) yang di usung oleh Dedi Mulyadi menjadi pemicu dikalangan seniman dan budayawan sunda, sedangkan dikalangan ustadz dan ulama di picu oleh issue eskatologis Dedi Mulyadi yang dianggap terkesan berorientasi pemusyrikan.

Kembali pada catatan tulisan ini, Apa sebetulnya model yang ingin dikembangkan oleh HMI yang Independen dan Alumni nya yang mengalami distantif dari nilai-nilai kekaderan dihadapan kaum Nahdiyin yang mulai mengembangkan kefahamannya dalam realitas kemanusian dan alam semesta, kita hanya bisa menciutkan kening dalam keterjebakan setiap pola kepentingan, dan hanya bisa berdo’a Allahummarzuqna taufikoththo’ah wa’alal’ulamaa^i bizzuhdi wannashihah wa’alal mustami’ina bil^itiba^i wal mao^idhoh wa’alal Umaro bil adli wasysyafaqoh wa’alal ra’yati bil insyaafi wa husnisysyiraah.‎

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top