Terkini

Kini, Hari Kebangkitan Nasional Minim Aplikatif Spirit Kebangsaan

Acep Maman, Ketua DPC PDIP Purwakarta

Cidahu.com – Ketua DPC PDIP Purwakarta, Acep Maman menilai, Kini: momen Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) minim aplikatif spirit kebangsaan. Sedangkan dulu, saat para pemuda atau tokoh bangsa Indonesia berkumpul dan berserikat. Tujuannya jelas dan terarah.

“Dalam kebangkitan nasional dulu, mereka berjuang semata-mata untuk tujuan kecerdasan, kesejahteraan, dan persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia. Guna melawan penjajahan atau tirani dalam bentuk dan rupa apapun,” kata Acep Maman kepada Cidahu News, Kamis (19/5/2016)

Menurutnya: dalam tanggal dan semangat yang sama, fakta-fakta di lapangan bagaikan jauh panggang dari api. Hari Kebangkitan Nasional hanya bagian dari simbolisme masa lalu yang miskin dengan tindakan aplikatif dari spirit kebangkitan.

“Wacana selalu bergelora bagaikan madu, namun kenyataannya tidak sesuai dengan semangat kebangkitan yang pernah di cita-citakan oleh tokoh bangsa era perjuangan. Apa yang salah?” ujarnya.

Pria yang bakal maju dalam bursa Pilkada Purwakarta 2018 mendatang itu juga mengungkapkan, jika acuannya adalah mental, maka sesungguhnya revolusi mental adalah sebuah jawaban atas kebobrokan mental bangsa saat ini.

“Korupsi, prostitusi, individualisme, dan kecenderungan mengkontruksi spirit chauvinisme oleh raja-raja kecil semakin kentara dan tak bisa dihindarkan,” cetus Kader Banteng Purwakarta itu.

Selain itu, lanjut AMAN, terkadang isu SARA menjadi bagian dari propaganda untuk menjauhkan dengan semangat persatuan dan kesatuan serta keutuhan NKRI. Penjajahan bukanlah lagi dilakukan oleh bangsa lain di dunia, melainkan penjajahan dilakukan oleh anak bangsanya sendiri.

“Spirit kebangkitan lagi-lagi hanya lebih kepada wacana romantisme historis. Bukan pada tindakan yang sesungguhnya dari makna kebangkitan,” ujarnya.

Pada kenyataannya, banyak mulut yang bungkam untuk menyuarakan kebenaran, mental kerdil penakut yang semakin merajalela, ketakutannya bukan karena tindakan yang salah, namun ketakutan itu muncul karena tirani yang dibangun oleh para penguasa.

“Lantas sudah kah kita bangkit? Saya barangkali adalah orang yang sangat pesimis melihat kemajuan bangsa ke depan, rasa pesimis itu bukanlah tanpa alasan,” tuturnya.

Menurutnya, banyak alasan untuk bisa diungkapkan atas kepesimisan itu. Bungkamnya suara kebenaran, kendornya spirit aktivis gerakan, menjamurnya mental korup yang sudah bagai lingkaran setan, propaganda SARA atas dasar kepentingan kekuasaan, dan masih banyak lagi alasan untuk rasa pesimis ini. “Harkitnas hanya simbolisme adalah kalimat yang barangkali tepat untuk disampaikan,” cetusnya.

Namun, rasa pesimisme tidak akan membawa hasil apa-apa, dia sebagai Kader PDIP Purwakarta akan melakukan upaya kebangkitan yang sesungguhnya. Namun untuk melakukan upaya itu, perlu kerjasama dengan para awak media, aktivis yang masih idealis, dan yang lain-lainnya. “Dengan semangat kebangkitan ini, semoga wacana-wacana yang terlontar dapat diwujudkan,” tukasnya. (CN-01)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top