Headline

Jangan Terlambat Mendidik Anak

Jangan Terlambat Mendidik Anak oleh Ismail Ludin

Jangan Terlambat Mendidik Anak

Oleh Ismail Ludin

OPINI, Cidahu.com – Pelukan dan ciuman antar pasangan yang belum menikah sudah menjadi hal yang biasa terjadi di zaman sekarang. Kini adegan negatif tersebut bukan hanya terjadi di kota-kota besar, bahkan sudah mulai terjadi di kampung-kampung.

Tidak memandang tempat ramai maupun sepi, terang maupun gelap, di mana ada pasangan remaja laki-laki dan perempuan selalu berujung saling bersentuhan, dari hal yang mula-mula kecil seperti berpenggangan tangan hingga pelukan dan ciuman. Kasus seperti ini tidak sedikit yang kemudian menjadi bisikan hangat para tetangga yakni “Hamil Duluan “. Kisah ini pun akhirnya berujung dengan “Kawin Tanggung “.Yang paling menakutkan adalah rasa menyesal seumur hidup dan turunnya nilai kehormatan perempuan. Apa bila menikah pun maka akan melahirkan generasi yang cacat moral.

Kasus di atas merupakan salah satu gambaran nyata kehidupan zaman sekarang. Tidak menutup kemungkinan juga tetangga dekat kita pun sedang berada dalam situasi negatif seperti ini, yang sudah seharusnya segera ditindaklanjuti. Bukan sembarang berburuk sangka, namun perlu adanya pengawasan yang ketat.

Orang tua yang mempuyai anak remaja tentunya akan memiliki rasa cemas atau pun khawatir terhadap putra putrinya. Saya berpikiran, jika kasus ini sudah merambah ke Kampung-kampung dan menjadi umum maka hubungan seks bebas akan terjadi dimana saja secara terang-terangan seperti layaknya seekor bebek.

Mendengar dan melihat banyak kasus seperti ini sudah seharusnya menyadarkan para orang tua untuk selalu menjaga dan mengawasi putra putrinya dalam bergaul. Menurut saya, timbulnya kasus seperti ini berawal dari rasa suka sama suka antara laki-laki dan perempuan. Sesuatu yang wajar jika anak memiliki hasrat suka antar lawan jenis karena secara lahiriah manusia diberikan hawa nafsu. Namun persoalannya ada beberapa faktor utama yang mendorong remaja untuk memancing nafsu yang meledak. Faktor tersebut adalah teknologi informasi dan pergaulan bebas.

Pada zaman digital seperti ini segala akses informasi dan aplikasi media sosial sangat cepat diterima dengan mudah. Kita sering menemukan aplikasi yang menyajikan informasi, gambar, dan vidio seks di dalam Handphone si mesin canggih. Seperti aplikasi “ BaBe “ yang sering muncul di beranda facebook dan BBM yang menyajikan berita dan gambar porno yang secara spontan menimbulkan nafsu para pengguna. Kemudian muncul group-group pecinta seks difacebook yang memicu pengguna untuk bergabung. Kemudian ketika membuka internet banyak sekali iklan-iklan yang tak diundang muncul dilayar laptop/komputer dengan menampilkan gambar seksi dan hot. Ditambah dengan game online yang dijejali dengan para karakter game yang seksi. Maka dampaknya yaitu otak para remaja teracuni serta nafsunya terangsang sehingga ia mencari tempat untuk menyalurkan hasrat seksualnya.Tentunya para perempuan yang menjadi sasaran sebagai pasangan/pacarnya.

Berangkat dari fenomena di atas ini menjadi Pekerjaan Rumah orang tua yang mempunyai anak perempuan khususnya agar tetap selalu waspada dan mengawasinya pergaulan anaknya. Pengawasan penggunaan Handphone terutama yang perlu dijaga, karena komunikasi antar pasangan berawal dari Handphone. Bagi orang tua yang masih memiliki anak yang berusia dini ada solusi besar untuk mengontrol nafsu, serta melindungi anak dari berbagai godaan dan tantangan yaitu pembekalan ilmu agama sejak dini oleh keluarga sebelum terlambat.

Keluarga merupakan organisasi kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak. Keluarga sangat menentukan sikap, perilaku, dan karakter anak. Keluarga yang baik maka akan mencetak anak-anak yang baik, begitu pula sebaliknya keluarga yang buruk akan mencetak anak-anak yang buruk. Istilah Sunda mengatakan “ Uyah Tara Tees ka Luhur “. Istilah ini memiliki makna yang dalam. “ Uyah “ adalah garam yang diibaratkan orang tua, “ Tara “ adalah tidak pernah, “ Tees “ adalah menetes/mencair, “ Ka Luhur “ adalah ke atas. Artinya setiap perilaku, sikap, dan sifat orang tua akan turun kepada anaknya. Akan sangat baik ketika seorang anak lahir dari orang tua dengan bekal pendidikan dan agama yang baik pula, yang menjadi masalah yaitu ketika orang tua, yang merupakan pencetak karakter pertama seorang anak tidak memberikan hal yang semestinya diperlukan seorang anak. Hal ini mendorong perlunya penanaman nilai akidah yang kuat kepada anak sejak dini.

Mengenai penanaman nilai-nilai akidah ini, perlu diketahui bahwa anak kita berada di generasi “ Z “ yaitu generasi yang hidup dari tahun 2000-an sampai saat ini. Generasi ini sangat berbeda dengan zaman dulu. Maka penanganannya pun akan berbeda. Ali bin Abi Tholib pernah berkata : “ Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu “. Generasi ini cenderung sensitif dan cepat bosan. Akan ada banyak tantangan serta godaan yang muncul diantaranya teknologi, pergaulan, dan moral. Tetapi tidak perlu khawatir, ada solusi yang saya dapat berikan kepada para orang tua bagaimana cara mendidik anak dengan baik.

Pertama, harus ada komitmen dan kerja sama antara Ibu dan Ayah untuk mendidik anak. Kemudian tanamkan nilai-nilai akidah dan pendidikan islam.Penanaman nilai-nilai islam diberikan ketika usia 0 sampai 7 tahun dalam bentuk ibadah nyata. Masa ini merupakan “Masa Emas “ bagi orang tua untuk mengajak anaknya beribadah. Pertama, biasakan anak ikut solat berjamaah dengan orang tua. Terutama solat subuh. Karena solat subuh akan membawa jiwa yang segar pada anak. Kebiasaan ini akan menempel terus pada hati anak sepanjang hidup. Bahkan kelak nanti anak akan merasa ada sesuatu yang hilang atau kurang jika ia meninggalkan solat.

Kedua, pada usia 7 sampai 14 tahun titipkanlah anak kepada guru ngaji. Dari 24 jam dalam sehari manfaatkan waktu oleh orang tua. Anak bisa mulai belajar mengaji dari magrib sampai isya. Kemudian jemputlah anak ketika pulang mengaji oleh orang tua. Ini akan membekas pada diri anak. Kemudian sekolahkan anak di lembaga pendidikan yang berkualitas. Perhatikanlah perkembangan anak, orang tua selalu rutin mengecek pelajaran sekolah. Dengarkan anak yang selalu bercerita pengalamannya di sekolah. Saya yakin dengan cara ini peran Ibu dan Ayah akan terasa dalam mendidik anak.

Ketiga, usia 14 sampai 21 tahun adalah usia yang rentan terhadap pengaruh dan godaan negatif dari luar. Seorang ayah atau ibu hanya perlu mengawasi anaknya saja. Sekali-kali orang tua memeriksa alat komunikasi anak seperti Handphone, Laptop, dan lainnya. Karena jika tidak terkontrol khawatir anak akan memanfaatkan alat komunikasi untuk hal yang tidak baik seperti “SMS jorok “ dengan laki-laik atau perempuan, menyimpan video-video porno.Karena ciri anak menyimpan hal yang negatif adalah dengan memasang kunci pengaman pada setiap aplikasi komunikasi. Tetapi saya yakin dengan pendidikan agama sejak dini sebelumnya, anak akan memiliki benteng yang kuat. Kemudian berilah contoh yang baik oleh Ayahnya untuk selalu melaksanakan puasa sunnah ( senin-kamis ), solat duha, dan solat tahajud. Saya yakin anak akan mengikuti perilaku Ayahnya dan menjadi kebiasaan seterusnya.

Ke empat, pada usia 21 dan seterusnya tugas orang tua hanya mengarahkan anak mau menjadi apa. Biarkan anak sendiri yang menentukan dan mengekplorasi segala ilmu pengetahuan dan teknologi. Disinilah orang tua jangan membatasi anak untuk melakukan sesuatu dan mencari pengalaman yang baru. Biarkan mereka mencari jati dirinya sendiri supaya memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Orang tua yang bijak adalah orang tua yang mengatur anak-anaknya agar mereka bisa mengatur dirinya sendiri. Orang tua tidak perlu khawatir, tantangan apapun itu yang muncul anak akan mampu menjaga dirinya karena sudah diberikan pondasi dan benteng yang kuat sejak dini.

Sebagai orang tua yang cerdas dalam mendidik generasi saat ini, penanaman nilai-nilai akidah islam sangat perlu diberikan kepada anak-anak sebagai perisai diri dari segala tantangan dan godaan yang datang. Orang tua yang menyayangi anak bukanlah orang tua yang selalu menuruti dan menyediakan semua fasilitas dan keinginan anak, tetapi orang tua yang berusaha menanamkan nilai akidah yang baik. Saya rasa jika semua anak memiliki akidah yang kuat maka tidak akan ada kasus seperti lahir duluan lagi. Jangan biarkan anak terseret oleh perubahan zaman serta terkuasai oleh hawa nafsu yang negatif. Jadikanlah solat wajib, solat sunnah, dan puasa sunnah sebagai kebiasaan yang permanen bagi anak.

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top