Opini

Spiritulitas Mudik Hakiki

Muhammad Awod Faraz Bajri

Oleh: Muhammad Awod Faraz Bajri
Dosen Sosiologi Agama SekolahTinggi Agama Islam Al Muhajirin Purwakarta

OPINI, Cidahu.com – Sudah menjadi tradisi setiap tahun,sebagian umat Islam mengakhiri bulan suci Ramadhan dan menyambut hari kemenangan dengan pulang kampung.Mereka yang selama ini bekerja di kota-kota besar,dan mencari penghidupan yang layak,merasa memiliki kewajiban yang tidak bisa dilewatkan untuk kembali ke kampung halaman untuk bertemu dengan orangtua,sanak keluarga dan kerabat dekat, untuk melepas rindu yang selama ini mereka jarang bertemu.

Dengan momentum idul fitri ini, mereka rela berdesak-desakan naik bus untuk bisa mudik. Kadang-kadang muncul sebuah pertanyaan,kenapa saudara kita rela mengorbankan segalanya untuk bisa pulang kampung halaman?mungkin ada sebagai orang yang tidak pernah merasakan mudik,atau mereka berfikir buat apa mudik yang hanya buang-buang uang dan tenaga.Lebih baik uang mudik ditabungkan saja untuk kehidupan setelah selesai hari raya Idul Fitri.Ada saja sebagai masyarakat kita yang berfikir seperti itu,walaupun jumlahnya tidak banyak. Itu salah satu sifat sinis terhadap tradisi mudik yang biasa dilakukan oleh sebagaian umat Islam.

Namun,bila kita renungkan secara lebih dalam,ternyata mudik ini di dalamnya terdapat makna filosofi,yang kadang-kadang orang tidak mengetahui hakikat mudik sebenarnya. Mudik sebenarnya memperlihatkan bahwa kita sebagai manusia yang diciptakan Allah Swt sebagai makhluk yang suci dibandingkan dengan makhluk lain. Kita sebagai makhluk yang selalu mendambakan hati dan pikiran dalam keadaan bersih,suci,dan menginginkan ketenangan lahir dan batin.Melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman,umat manusia sebenarnya sedang mencoba menggali kembali nilai-nilai universal fitrahnya sebagai manusia.Biasanya orang yang melakukan mudik dengan sekuat tenaga,ingin melepaskan beban yang berat selama mereka bekerja.

Dengan mudik,sebenarnya mereka ingin berjumpa keluarga yang dirindukan selama ini.Terutama mereka ingin ada kebersamaan yang selama ini ditinggalkan karena harus bekerja.Momentum inilah yang dimanfaatkan oleh mereka yang mudik, untuk mendapatkan suasana sejuk di kampung halaman.Apabila kita refleksikan, tradisi mudik ini sebenarnya merupakan miniatur dari sebuah peristiwa bahwa manusia suatu saat akan kembali ke asal yang hakiki,yakni Allah SWT sebagai pemegang mandat alam semesta ini.

Biasanya orang pulang kampung akan merasa bahagia ketika bertemu dengan sanak keluarga di kampung halaman.Dan seharusnya pun harus merasa bahagia ketika saat kita akan kembali ke kampung akhirat.Kampung hakiki yang di dalamnya ada kebahagiaan,serta kesenangan hakiki.Tidak seperti di dunia yang penuh dengan fatamorgana. Biasanya ketika kita mudik ke kampung halaman selalu membawa bekal yang banyak berupa uang untuk dibagikan kepada keluarga,sehingga mereka merasa bahagia karena telah dibawakan bekal oleh kita yang telah dikumpulkan.

Mudik di dunia saja kita mempersiapkan bekal dengan kerja keras,maka tidak salah ketika nanti kita mudik ke kampung halaman,yakni akhirat.
Sudah selayaknya kita sebagai orang beriman,harus membawa bekal yang banyak.Sebab dengan bekal banyak,dalam bentuk takwa dan amal shaleh ketika di alam dunia,maka sudah bisa dipastikan kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagian ketika bertemu Allah Swt selaku Sang Pemilik alam semesta ini.
Dalam surah Al-Fajr,ayat 27-30,Allah Swt menyatakan bahwa kalimat qalbun salim dengan jiwa yang tenang.

Meminjam tafsiran Quraish Shihab bahwa kalimat qalbun salim adalah hati yang terpelihara kesucian fitrahnya.Dengan ayat inilah orang-orang yang bersih jiwanya mudik kepada Allah SWT dengan hati yang ikhlas,serta ridho atas ketetapannya.Dan merekalah kelak yang akan Allah SWT masukkan ke dalam surga-Nya.Pertanyaannya,apakah kita sudah mempersiapkan bekal banyak untuk melakukan mudik ke kampung halaman hakiki,yakni akhirat?Mau tidak mau,kita harus segera menyiapkan bekal dengan kerja keras sebagaimana ketika mudik di dunia,agar kelak kita berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan bersih hati dan jiwa.Inilah pesan mudik yang perlu kita renungkan bersama.Wallahu alam bi shawab

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top