Headline

Dedi Mulyadi Tegaskan Orang Sunda Sangat Toleran

Cidahu.com – Bertempat di Hotel Grace Kota Cirebon Jawa Barat kemarin Selasa, (9/8) Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi diundang dalam acara dialog publik yang terselenggara atas kerjasama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Wahid Foundation dan Gedhe Foundation.

Bupati yang selalu mengenakan pakaian khas Sunda tersebut diundang oleh panitia dalam kapasitasnya sebagai Tokoh Pluralis yang mampu menjadikan Kabupaten yang dia pimpin untuk masuk menjadi salah satu nominasi penerima gelar Kota Paling Toleran versi Badan HAM Perserikatan Bangsa – Bangsa.

Dalam acara tersebut Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Desa merupakan sumber nilai inklusifitas yang penuh toleransi. Dia mencontohkan perilaku ramah dan gotong royong sebagai soko guru sikap toleran sampai hari dipraktikan oleh masyarakat yang tinggal di lingkungan pedesaan.

“Kesemerawutan di Desa-desa itu justru lahir dari paham yang secara ‘toleran’ dipraktikan oleh masyarakat desa. Saking ‘tolerannya’ mereka itu, dulu memelihara ternak sekarang rela memelihara kendaraan bermotor. Padahal sebelum gaya hidup yang merusak itu masuk, Desa selalu baik-baik saja. Kita ini mengaku pintar tapi ternyata mengubah tatanan moral kehidupan,” tegas Dedi menjelaskan yang disambut oleh gelak tawa peserta dialog publik tersebut.

Dedi pun mengungkapkan, karakter masyarakat Sunda itu sudah sangat inklusif bahkan seringkali terlalu permisif terhadap nilai-nilai yang baru. Ia sangat keberatan saat hari ini terdapat stereotype bahwa Provinsi Jawa Barat, tempat dimana mayoritas orang Sunda tinggal dicap sebagai Provinsi paling intoleran.

“Saya heran kok masyarakat yang sangat toleran ini disebut intoleran. Harus dicek betul-betul siapa yang sesungguhnya intoleran itu. Justru yang terjadi di Jawa Barat itu adalah provokasi yang berasal dari luar paham orang Sunda, posisi orang Sunda dalam hal ini sekedar terbawa klaim saja,” ungkap Dedi.

Sementara itu, Yenny Wahid sesama pegiat pluralis Indonesia mengamini pernyataan Kang Dedi tersebut. Ia berujar masyarakat Jawa Barat sering menjadi pion provokasi yang mengatasnamakan agama. Adapun aktor intelektualnya menurut Yenny bukanlah asli orang Sunda tetapi pendatang dari luar kota bahkan luar negeri.

“Saya sepakat dengan Kang Dedi, setelah dicek betul-betul memang kasian ini orang Sunda jadi sasaran provokasi atas nama Agama terus. Padahal dalangnya bukan orang Sunda. Implikasinya daerah Jawa Barat menduduki peringkat tertinggi Intoleransi,” Ujar Yenny.

Surat Edaran tentang Kebebasan Beragama yang sudah ditandatangani sejak 10 November 2015 oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pun tidak lepas dari apresiasi Yenny Wahid. Dia menegaskan seluruh daerah di Jawa Barat sudah waktunya berkiblat ke Purwakarta dalam hal membangun toleransi beragama dan berbudaya.

“Saya kenal Kang Dedi sudah lama. Beliau konsisten menjaga nilai pluralisme kebangsaan. Surat Edarannya juga keren. Tinggal kapan nih daerah lain meniru Purwakarta?,” pungkas Yenny. (CN-02)

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top