Headline

Legenda Nini Pelet Dalam Indahnya Pemandangan Gunung Ciremai

Cidahu.com – Gunung Ciremai merupakan Gunung berapi tertinggi di Jawa barat dengan ketinggian 3078 mdpl dengan luas wilayah 15000 ha. Gunung ini termasuk ke dalam Taman Nasional Gunung Ciremai ( TNGC ), pesona Gunung Ciremai yang unik dan cantik di puncaknya ini menjadikan gunung ciremai sebagai salah satu tempat pendakian terfavorit para pendakian. Wisata Gunung Ciremai ini tak pernah sepi dari kunjungan pendaki, terutama saat menjelang liburan.

Dibalik keindahannya Gunung ciremai menyimpan sebuah legenda lokal tentang Nini Pelet. Konon, Gunung Ceremai dipercaya sebagai singgasana kerajaan Nini Pelet. Menurut Masruri dalam bukunya berjudul: Rahasia Pelet, Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat, khususnya di bidang percintaan. Dia adalah tokoh yang merebut kitab “Mantra Asmara” ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa.

Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu “Jaran Goyang” yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama para paranormal.

Secara administrative gunung ciremai termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Gunung ciremai ini memiliki dua kawah yakni kawah bagian barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. pada ketinggian sekitar 2.900 mdpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Goa Walet.

Bunga edelweiss di lereng ciremai

Bunga edelweiss di lereng ciremai

Pendakian Gunung Ciremai Terdapat tiga jalur pendakian yang bisa digunakan pendaki yaitu jalur Linggarjati, jalur Palutungan, dan jalur Apuy. Rute pendakian melalui jalur Linggarjati yang terletak di kabupaten kuningan dapat dimulai dengan perjalanan menuju kuningan yang bisa di tempuh menggunakan bus jurusan Cirebon-Kuningan dari terminal Cirebon. Berhenti di Cilimus, dilanjutkan dengan ojeg menuju Linggarjati yang berjarak sekitar 24 kilometer dari Cirebon. Dari pertigaan Linggarjati, perjalanan dilanjutkan menuju museum sejarah linggarjati yang pernah menjadi saksi sejarah penandatanganan perjanjian linggarjati itu. Sekitar 500 meter dari museum, terdapat pos penjagaan untuk mengurus administrasi pendakian.

Disini pendakian bisa dimulai melewati jalan beraspal diantara sawah penduduk dan hutan pinus menuju Cibunar yang berada di ketinggian 750 mdpl. Managemen air sangat diperlukan dalam pendakian ini, karena di lokasi inilah terdapat sumber mata air melimpah yang tidak dapat ditemukan lagi di perjalanan menuju puncak. Tujuan selanjutnya adalah Leuweng Datar (1285 mdpl) yang berada di kawasan hutan tropis.

Dari Leuweng Datar, perjalanan dilanjutkan menuju kuburan Kuda (1580 mdpl). Melalui beberapa pos yakni Sigedang dan kondang Amis (1380 mdpl) selama kurang lebih dua jam perjalanan. Kuburan Kuda merupakan dataran luas dan teduh, cocok untuk mendirikan tenda. Tempat ini juga dianggap keramat oleh penduduk sekitar. Jalur pendakian akan semakin curam dengan melewati beberapa titik seperti pengalap (1790 mdpl) dan tanjakan sereuni (1825 mdpl ). Tanjakan sereuni merupakan bagian terberat, dimana pendakiharus setengah memanjat dengan mengandalkan akar pepohonan untuk mencapai tanjakan Bapatere (2200 mdpl ). Jika musim hujan, tanjakan sereuni bisa lebih sulit lagi karena merupakan jalur lintasan air, sehingga hamper serupa dengan air terjun.

Pemandangan di Puncak Ciremai

Dari tanjakan Bapatere, jalur pendakian masih menanjak untuk tiba di Batu Lingga (2400 mdpl ) dengan lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Di Batu Lingga yang merupakan dataran luas yang terdapat batu berukuran besar yang dulunya menjadi lokasi Wali Songo berkhotbah dan sholat. Disini juga terdapat dua buah in memoriam. Sebelum melewati batas vegetasi ke wilayah yang terbuka, pendaki akan melewati dua pos yakni Sangga Buana Bawah (2454 mdpl) dan Sangga Buana Atas (2665 mdpl).
Pos terakhir sebelum Puncak adalah Pengasinan dengan ketinggian 2860 mdpl. Di Pos ini, bisa mendirikan belasan tenda dengan kondisi yang berbukit-bukit. Selanjutnya tiba dipuncak, dibutuhkan waktu sekitar satu jam dengan melewati puncak tertinggi kedua terlebih dahulu yakni puncak sunan Mataram (3058 mdpl) yang ditandai dengan batu triangulasi, melewati bebatuan cadas yang menanjak dan sesekali harus setengah merayap. Untuk mencapai puncak tertinggi (Puncak Sunan Cirebon, 3078 mdpl), pendaki harus mengelilingi kawah hingga bertemu dengan triangulasi yang sudah roboh.

Comments

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top