Featured

Perempuan Tangguh Sang Pemecah Batu

Cidahu.com – Kerasnya batu tak mampu menghalangi semangat perempuan tangguh di Kampung Pasirpeteuy Desa Pamoyanan,Kecamatan Plered. Sebab, sekeras apapun batu tersebut tetap saja akan hancur jika sudah ditangan para ibu rumah tangga di kampung itu.

Ya. Membebelah batu memang sudah menjadi pekerjaan rutin sebagian masyarakat di desa ini. Pasalnya, dari bongkahan batu yang tak terpakai perusahaan tambang menjadi ladang rezeki warga.

Seperti diketahui, Desa Pamoyanan sendiri merupakan areal yang di kelilingi perusahaan tambang batu. Tak heran hampir sebagian warga di wilayah itu bermata pencaharian menjadi buruh di perusahaan tambang dan adapula menjadi penjual batu belah.

Meski begitu, tak semua batu belah layak dan dapat di produksi perusahaan. Biasanya warga sekitar memanfaatkan limbah batu yang tak terpakai untuk kemudian di olah menjadi layak jual.

Seperti yang dilakukan Neng Heti (28) warga RT09 RW05 yang keseharianya memecah batu. Dengan alat seadanya ibu satu anak itu bisa dapat mengumpulkan pecahan batu selama satu minggu. Meski pekerjaan ini cukup alot, namun berkat ketekunanya Neng Heti dapat meraup pundi-pundi dari pecahan batu itu.

“Biasanya kita ambil serpihan batu yang sudah tidak dipakai dari perusahaan lalu kita bawa kerumah dan kita pecah untuk kembali dijual,” kata Siti Aisah warga sekitar.

Ia mengatakan, dalam satu minggu ia mampu menjual satu kubik pecahan batu split. Biasanya, jika batu telah terkumpul di depan rumah ada pengepul yang datang untuk membeli barang tersebut.

“Paling satu mobil bak kita jual dengan harga Rp200 ribu saja ya lumayan buat tambah-tambah keperluan,” katanya.

Tak hanya Neng Heti, menjadi pemecah batu juga dilakoni Enung (50). Bahkan, wanita itu sudah belasan tahun memecah batu dibantu dua anak perempuanya.

Ia mengatakan, dari profesinya ini, dia mengaku bisa membantu kebutuhan suaminya yang menjadi buruh petani. Sekaligus membantu biaya pendidikan anaknya.

Enung menuturkan, memecah batu tidak hanya bisa dilakukan kaum laki-laki saja. Sebagai perempuan, setidaknya jangan hanya menunggu suami memberi uang. Tapi juga belajar mandiri bekerja agar tidak ketergantungan.

“Udah lama pak, ya lumayan lah buat tambah-tambah yang penting dapur ngebul,” katanya.

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top
%d blogger menyukai ini: