Purwakarta

Pengrajin Boboko di Purwakarta Tetap Eksis di Era Serba Modern

Akim perajin Anyaman Bambu di kampung rawa Gede desa rawasari Kecamatan Plered

Cidahu.com – Meski saat ini masyarakat lebih memilih peralatan dapur serba moderen namun, eksistensi perajin anyaman bambu di Purwakarta ternyata tak pernah surut dimakan zaman.

Hal ini dibuktikan dari banyaknya pesanan yang diterima oleh salah satu perajin Akim (70) warga Kampung Rawa Gede RT09/RW2, Desa Rawasari, Kecamatan Plered.

Pria paruh baya itu tampak tengah sibuk menyelesaikan pesanan masyarakat. “Iya ini ada yang pesan boboko dan Nyiru katanya harus selesai minggu ini,” kata Bah Akim, Senin (16/10/2017).

Perajin perkakas bambu itu mengatakan, hingga saat ini dirinya masih setia dengan pekerjaannya. Sehari-hari ia biasa membuat boboko (bakul), ayakan (saringan), nyiru (nampan), tolombong (bakul besar), hihid (kipas), aseupan (tempat memasak nasi), Cetok (Caping) dan perkakas lainnya yang terbuat dari bambu. “Satu hari abah bisa buat dua sampai lima hihid,” katanya.

Untuk harga sendiri pria yang sudah menggeluti usahanya selama 10 tahun itu mengatakan, tidak mematok harga tinggi hal ini disesuaikan dengan harga pasar.”Hihid abah jual dengan harga 5 ribu, untuk nyiru 30 ribu dan Caping 30 ribu,” jelasnya.

Meski tetap bertahan, Akim mengatakan jumlah perajin anyaman bambu didesanya hanya tinggal hitungan jari. Sebab, kurangnya minat masyarakat terlebih minimnya regenerasi mengakibatkan anyaman tradisional bambu terancam hilang.

Padahal, dirinya meyakini jika usaha tersebut sangatlah menjanjikan. Apalagi saat ini secara tidak langsung para perajin mendapat dukungan dari pemerintah Kabupaten Purwakarta

“Buktinya waktu perayaan ulang tahun Purwakarta kemarin abah kebanjiran pesanan saya harap kedepan ada penerus perajin anyaman bambu,” pungkasnya.

Portal berita online Purwakarta

Copyright © 2017 Cidahu News by Jabar Media Net(work)

To Top