Anggaran Belanja Barang dan Jasa Pemerintah 2019 Tembus Rp 1.133 Triliun

Cidahu News — Anggaran belanja pengadaan barang dan jasa pemerintah 2019 mencapai Rp 1.133 triliun atau 52 persen dari APBN/APBD, menurut data Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP). Dari jumlah tersebut, sebanyak 97.998 paket tender dengan nilai Rp 265 triliun sudah ditransaksikan melalui e-tendering, dan 314.000 paket dengan nilai Rp 54 triliun ditransaksikan melalui belanja langsung (e-Purchasing) melalui katalog elektronik, sisanya dilakukan melalui skema pengadaan yang belum terakomodir melalui sistem elektronik.

Sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang-Jasa Pemerintah, pengadaan mempunyai peran penting dalam pembangunan nasional untuk peningkatan pelayanan publik, pengembangan perekonomian daerah dan nasional serta berkontribusi dalam peningkatan penggunaan produk dalam negeri, peningkatan peran UMKM dan pengadaan berkelanjutan.

Kepala LKPP Roni Dwi Susanto mengatakan, memasuki era Internet of Things (IoT), pengadaan barang-jasa pemerintah kemudian bertransformasi agar selaras dengan perkembangan zaman. Teknologi informasi yang berkembang pesat mempengaruhi aktivitas pasar serta pola bisnis.

“Melalui pemanfaatan teknologi digital, pengadaan semakin didorong untuk mampu memberikan value for money, mengajak entitas pengadaan (kementerian/lembaga/pemerintah daerah) untuk berkolaborasi,” ujar Roni dalam keterangan pers, Selasa (5/11).

Di sisi lain, lanjut Roni, disrupsi teknologi juga mendorong organisasi pemerintah untuk bertransformasi memotong rantai birokrasi, memudahkan prosedur, dan mengubah pola kerja yang bertujuan agar organisasi lebih responsif, transparan dan accessible sehingga terjadi check and balance.

“Dengan kondisi seperti ini, LKPP kemudian melakukan berbagai inovasi melalui empat pilar pengembangan sistem pengadaan barang-jasa yaitu, pengembangan strategi dan Kebijakan, mendorong value for money dengan tidak lagi menjadikan harga termurah sebagai tolok ukur efesiensi dan efektivitas pengadaan, serta melakukan penyederhanaan aturan agar pelaksanaan pengadaan lebih sederhana,” tambah Roni Dwi Susanto.

Roni menjelaskan, kebijakan dan regulasi pengadaan diwujudkan dengan banyak tujuan. Pertama, agar meningkatkan perekonomian nasional sekaligus mendorong pemerataan ekonomi dan membangun dunia usaha yang sehat. Kedua, pengembangan sistem informasi dan monitoring-evaluasi dengan pemanfaatan sistem pengadaan secara elektronik, melalui aplikasi sistem pengadaan secara elektronik yang lingkupnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai dengan tender dan katalog elektronik. Pembaruan SPSE versi 4.3 saat ini sudah dapat memfasilitasi metode pengadaan repeat order dan reverse auction.

“Sistem pengadaan secara elektronik dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan transparansi dalam proses pengadaan barang-jasa pemerintah sehingga dapat meminimalisir peluang terjadinya penyimpangan dalam pengadaan,” jelas Roni.

Ketiga, melalui penguatan SDM dan kelembagaan dengan mendorong pembentukan unit kerja pengadaan barang-jasa sebagai organisasi mandiri di setiap K/L/PD yang diisi oleh pejabat fungsional yang kompeten, berorientasi pada hasil, memiliki kompetensi teknis, manajerial dan sosiokultural. Keempat, menanamkan nilai integritas kepada pelaku pengadaan baik pengelola pengadaan ataupun pelaku usaha pengadaan barang/jasa pemerintah.

“LKPP juga berupaya mengawal langsung proses pelaksanaan pengadaan melalui pendampingan untuk paket pengadaan yang bernilai besar dan berisiko tinggi. Beberapa diantaranya adalah proyek strategis nasional seperti Penyelenggaraan Asian Games dan Asian Para Games 2018, Pengadaan Logistik Pemilu 2019 dan Palapa Ring,” tandas Roni.

Roni menambahkan sampai November 2019, masih ada paket pekerjaan senilai Rp39 triliun yang masih berproses pada sistem e-tendering, termasuk pekerjaan konstruksi senilai Rp31,7 triliun, yang akan mempengaruhi kinerja dan penyerapan anggaran. Jumlah tersebut berasal dari pagu pengumuman e-tendering sejumlah Rp304,1 triliun namun yang sudah selesai tender baru Rp265,1 triliun dengan Rp182 triliun adalah proyek konstruksi.

Topic:

Just For You